I. Pengertian Penyakit Lupus
Penyakit Lupus adalah salah satu bentuk penyakit autoimun, artinya sistem kekabalan tubuh (imun) malah menyerang sel-sel, jaringan dan organ sehat tubuh itu sendiri yang terjadi terus menerus sehingga menimbulkan peradangan kronis. Dengan kata lain Penyakit lupus diartikan sebagai penyakit peradangan kronis autoimun.
Arti kata
lupus sendiri dalam bahasa Latin berarti “anjing hutan”. Istilah ini mulai
dikenal sekitar satu abad lalu. Awalnya, penderita penyakit ini dikira
mempunyai kelainan kulit, berupa kemerahan di sekitar hidung dan pipi .Bercak-bercak merah di bagian wajah dan lengan, panas dan rasa lelah
berkepanjangan , rambutnya rontok, persendian kerap bengkak dan timbul
sariawan. Penyakit ini tidak hanya menyerang kulit, tetapi juga dapat menyerang
hampir seluruh organ yang ada di dalam tubuh.
Peradangan
yang disebabkan oleh lupus dapat mempengaruhi banyak sistem tubuh diantaranya:
sendi, kulit, ginjal, sel darah, otak, jantung dan paru-paru sehingga
menimbulkan banyak sekali gejala atau manifestasi klinis yang beragam.
Oleh karena
itu Penyakit Lupus ini sulit dideteksi karena tanda-tanda dan gejala sering
kali mirip dengan penyakit lain. Namun demikian tanda dan gejala penyakit lupus
yang paling khas adalah ruam wajah yang menyerupai sayap kupu-kupu (ruam di
kedua pipi) disebut juga sebagai malar rash.
Beberapa
orang dilahirkan dengan kecenderungan mengembangkan penyakit lupus, yang
mungkin dipicu oleh infeksi, obat-obatan tertentu atau bahkan sinar matahari.
Meskipun tidak ada obat definitif untuk menyembuhkan penyakit lupus, namun
usaha pengobatan dapat membantu mengendalikan gejala penyakit lupus yang
timbul.
II. Penyebab Penyakit Lupus
Penyakit lupus disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringan sehat dalam tubuh. Hal itu bisa terjadi kemungkinan sebagai hasil dari kombinasi genetika dan lingkungan. Karena telah diketahui bahwa orang-orang dengan kecenderungan lupus (diwariskan) dapat mengembangkan penyakit lupus ini ketika mereka kontak dengan sesuatu dalam lingkungan yang dapat memicu gejala penyakit lupus. Walau demikian, secara pasti penyebab penyakit lupus belum diketahui. Namun telah diketahui beberapa pemicu potensial, diantaranya:
Sinar matahari.
Paparan sinar matahari bisa menjadi penyebab penyakit lupus karena pada orang-orang yang rentan dapat menimbulkan lesi pada kulit yang merupakan gejala penyakit lupus atau memicu respons interna.
Penyakit lupus ini tidak menular, Akan tetapi risiko dapat diturunkan
III. Gejala Penyakit Lupus
Seperti telah disinggung di atas, penyakit lupus dapat menyerang berbagai sistem organ, sehingga gejalanya sangat bervariasi. Namun demikian, ada gejala atau ciri-ciri penyakit lupus yang umum, yang bisa kita pegang sebagai acuan bahwa seseorang dicurigai memiliki penyakit lupus.
II. Penyebab Penyakit Lupus
Penyakit lupus disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringan sehat dalam tubuh. Hal itu bisa terjadi kemungkinan sebagai hasil dari kombinasi genetika dan lingkungan. Karena telah diketahui bahwa orang-orang dengan kecenderungan lupus (diwariskan) dapat mengembangkan penyakit lupus ini ketika mereka kontak dengan sesuatu dalam lingkungan yang dapat memicu gejala penyakit lupus. Walau demikian, secara pasti penyebab penyakit lupus belum diketahui. Namun telah diketahui beberapa pemicu potensial, diantaranya:
Sinar matahari.
Paparan sinar matahari bisa menjadi penyebab penyakit lupus karena pada orang-orang yang rentan dapat menimbulkan lesi pada kulit yang merupakan gejala penyakit lupus atau memicu respons interna.
Obat-obatan.
Lupus dapat dipicu oleh beberapa jenis obat anti-kejang, obat tekanan darah dan antibiotik. Orang yang gejala lupus nya timbul ketika minum obat biasanya gejala penyakit lupus tersebut akan hilang ketika mereka berhenti minum obat.
Lupus dapat dipicu oleh beberapa jenis obat anti-kejang, obat tekanan darah dan antibiotik. Orang yang gejala lupus nya timbul ketika minum obat biasanya gejala penyakit lupus tersebut akan hilang ketika mereka berhenti minum obat.
Penyakit lupus ini tidak menular, Akan tetapi risiko dapat diturunkan
III. Gejala Penyakit Lupus
Seperti telah disinggung di atas, penyakit lupus dapat menyerang berbagai sistem organ, sehingga gejalanya sangat bervariasi. Namun demikian, ada gejala atau ciri-ciri penyakit lupus yang umum, yang bisa kita pegang sebagai acuan bahwa seseorang dicurigai memiliki penyakit lupus.
Berikut ini,
ada 11 ciri-ciri penyakit lupus (11 Kriteria Lupus / SLE). Jika
seseorang memiliki minimal 4 dari gejala berikut, maka ia positif lupus ( lupus
eritematosus sistemik ) :
1.
Butterfly Rash – Ruam dengan gambaran seperti sayap kupu-kupu, yaitu
mengenai kedua pipi dengan hidung sebagai tengahnya (badan)
2. Discoid
Rash – Ruam yang cukup “klasik” berbentuk cakram tampak merah lebih
jelas dibagian tepi, dan biasanya timbul pada wajah, kulit kepala, dan leher.
Ruam ini sering meninggalkan bekas luka. Discoid Rash dapat berdiri sendiri
pada penyakit lupus discoid.
3. Photosensitivity
– Ruam-ruam diatas akan timbul atau semakin parah setelah terkena sinar
matahari
4. Oral
ulcers – timbulnya sariawan terus menerus atau hilang timbul, baik di
lidah ataupun di bagian mana saja dari rongga mulut.
5. Arthritis
(Radang sendi) – Perdangan pada sendi yang menimbulkan rasa nyeri, memerah,
bahkan sampai bengkak.
6. Serositis
– Ini adalah suatu radang pada lapisan paru-paru dikenali sebagai Pleuritis
(Radang selaput paru), dan dapat juga mengenai lapisan jantung, dikenal sebagai
Pericarditis (peradangan pada selaput jantung) sehingga menimbulkan
gejala nyeri dada yang tajam terutama ketika batuk dan tarik napas dalam,
terkadang juga bisa menimbulkan nafas pendek.
7. Gangguan
pada ginjal – Gangguan ginjal pada penyakit lupus ditandai dengan
ditemukannya Protein dalam air kencing (proteinuria) atau endapan (sediments)
yang ditemukan juga dalam urin (ini dapat dilihat di bawah mikroskop).
8. Gangguan
neurologis dan Psychosis – lupus dapat mengganggu kerja otak dan sistem
saraf sehingga dapat menimbulkan sakit kepala, kebingungan, gangguan
penglihatan seperti halusinasi, bahkan kejang. – berlaku pada keadaan tidak
adanya obat-obatan yang diketahui menyebabkan keadaan ini-
9. Kelainan
dalam Darah – Hemolytic Anemia (anemia
karena pecahnya sel darah merah), Low White Blood Cell counts (sel darah
putih rendah) atau Low Platelet counts (platelet atau trombosit rendah).
10. Immunologic
Disorders – gangguan imunitas ditandai dengan sel LE Positif, Anti-DNA:
antibodi DNA asli dalam titer normal, Anti-Sm: kehadiran antibodi terhadap
antigen nuklir Sm, tes serologi positif palsu untuk sifilis diketahui positif
selama minimal 6 bulan dan dikonfirmasi oleh Treponema pallidum imobilisasi
atau tes penyerapan antibodi treponema fluoresen
11. Positif
ANA (Antinuclear Antibodi) – Titer antibodi antinuklear abnormal dengan
imunofluoresensi atau uji setara pada setiap titik waktu.
IV. Pengobatan Penyakit Lupus
Pengobatan
Penyakit lupus tergantung pada tanda-tanda dan gejala yang muncul saja, karena
biasanya tidak semua gejala muncul pada seseorang. Karena lupus merupakan
penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan jangka panjang, maka gejala dan
tanda yang munculpun tidak harus semua diobati karena harus dipertimbangkan
dengan cermat mengenai manfaat dan risiko pengobatan (efek samping obat).
Obat
penyakit lupus yang paling sering digunakan untuk mengontrol lupus meliputi:
Obat
anti-inflammatory non steroid (NSAID=non steroid anti-inflammatory drugs).
NSAID Over-the-counter atau yang di jual bebas, seperti naproxen dan ibuprofen, dapat digunakan untuk mengobati nyeri, pembengkakan dan demam yang berhubungan dengan lupus. NSAID yang lebih kuat harus dengan resep dokter. Efek samping dari NSAID antara lain: perdarahan lambung, masalah ginjal dan peningkatan risiko masalah jantung.
NSAID Over-the-counter atau yang di jual bebas, seperti naproxen dan ibuprofen, dapat digunakan untuk mengobati nyeri, pembengkakan dan demam yang berhubungan dengan lupus. NSAID yang lebih kuat harus dengan resep dokter. Efek samping dari NSAID antara lain: perdarahan lambung, masalah ginjal dan peningkatan risiko masalah jantung.
Obat
antimalaria.
Obat yang biasa digunakan untuk mengobati malaria juga digunakan sebagai obat lupus, seperti hydroxychloroquine (Plaquenil), juga dapat membantu mengendalikan lupus. Efek samping bisa termasuk sakit perut dan, sangat jarang, kerusakan pada retina mata.
Obat yang biasa digunakan untuk mengobati malaria juga digunakan sebagai obat lupus, seperti hydroxychloroquine (Plaquenil), juga dapat membantu mengendalikan lupus. Efek samping bisa termasuk sakit perut dan, sangat jarang, kerusakan pada retina mata.
Obat
Kortikosteroid
Prednison dan jenis kortikosteroid lain digunakan sebagai obat lupus karena dapat melawan peradangan, tetapi sering menghasilkan efek samping jangka panjang – diantaranya kelebihan berat badan, mudah memar, pengeroposan tulang (osteoporosis), tekanan darah tinggi, diabetes dan meningkatkan risiko infeksi. Risiko efek samping meningkat seiring dengan besarnya dosis dan terapi jangka panjang.
Prednison dan jenis kortikosteroid lain digunakan sebagai obat lupus karena dapat melawan peradangan, tetapi sering menghasilkan efek samping jangka panjang – diantaranya kelebihan berat badan, mudah memar, pengeroposan tulang (osteoporosis), tekanan darah tinggi, diabetes dan meningkatkan risiko infeksi. Risiko efek samping meningkat seiring dengan besarnya dosis dan terapi jangka panjang.
Obat Penekan
kekebalan tubuh.
Obat yang menekan sistem kekebalan tubuh dapat membantu dalam kasus-kasus lupus yang berat. Contohnya siklofosfamid, azathioprine, mycophenolate, leflunomide dan methotrexate. Potensi efek samping dari obat lupus ini antara lain: peningkatan risiko infeksi, kerusakan hati, penurunan kesuburan dan peningkatan risiko kanker. Sebuah obat baru, belimumab (Benlysta) juga mengurangi gejala lupus pada beberapa orang. Efek sampingnya berupa mual, diare dan demam.
Obat yang menekan sistem kekebalan tubuh dapat membantu dalam kasus-kasus lupus yang berat. Contohnya siklofosfamid, azathioprine, mycophenolate, leflunomide dan methotrexate. Potensi efek samping dari obat lupus ini antara lain: peningkatan risiko infeksi, kerusakan hati, penurunan kesuburan dan peningkatan risiko kanker. Sebuah obat baru, belimumab (Benlysta) juga mengurangi gejala lupus pada beberapa orang. Efek sampingnya berupa mual, diare dan demam.

Tidak ada komentar on "LUPUS